Selasa, 26 Januari 2016

Lekaslah Datang !

Lekaslah lekas datang
Rindu ini telah mendahuluimu tanpa diundang
Ketika senja demi senja merangkai purnama
Hampir putus asaku menanti jumpa

Lekaslah lekas datang
Takkan lagi kuragu membuat keputusan
Agar kau tak pernah lagi lupa
Tentang sebuah pertemuan yang mestinya diagendakan

Lekaslah lekas datang
Mari segera kita rayakan ikatan persahabatan
Biar semua kisah tak lagi menjadi rahasia
Yang terpendam timbunan masa

Lekaslah lekas datang
Tak sabar aku, menantimu pulang



 

Kamis, 24 Januari 2013

Diam

"aku perlu sebuah pundak untuk bersandar 
dan sepasang telinga yang bersedia mendengar"

---

"tidak, aku hanya perlu sebuah otak yang berhenti berteriak, 
dan sebuah mulut yang berhenti mengeluh"

---

"tidak, aku hanya perlu sebuah hati yang selalu menerima"


Selasa, 24 April 2012

Rabu, 28 Maret 2012

Aku Rindu

Aku rindu
sekedar duduk di depanmu
menunggumu
berkata kata

Aku rindu
sekedar menatapmu
menunggumu
membalas mata

Aku rindu
hanya diam di dekatmu
meyakini
bahwa kau ada

Minggu, 25 Maret 2012

Ungkapan Cinta

cinta,mari dengarlah kata yang kuucap lewat mata
tentang riuh yang menjelma pikuk di dada
mengejar waktu yang terus beranjak pergi
dan berlari
di setiap pagi yang kureguk manis senyummu
adalah nikmat yang melambungkan sukmaku

cinta,mari dengarkan soneta yang kusenandungkan
saat hening dentingkan dawai rasa
seirama tarikan nafas, hembusan nafas
dan detak nadi
di setiap siang yang kudapati canda riangmu
adalah anugerah yang menyuburkan jiwaku

cinta, mari dengarkan rintik gerimis yang rinai
saat butiran butiran bening sejukkan bumi
membasahinya dengan cinta tiada usai
dan abadi
di setiap malam yang kurasai hangat tatapmu
adalah inspirasi yang menggenapi puisi cintaku 
*Bandung,10082010
"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway The Fairy and Me yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain"


Kamis, 23 Februari 2012

kamu 2

jumpa kamu
mengenalmu
dirimu
simpatiku

temanimu
candamu
tawamu
hiburku

senyummu
tatapmu
tulusmu
getarkanku

padamu
harapanku
tersandar
selalu

gundahku
kaudengarkan
gelisahku
kautenangkan
citaku
kaugantungkan
semangatku
kaulambungkan

jumpa kamu
jadi harapan
meski waktu
memisahkan

*tak ada perpisahan itu, katamu

Sabtu, 18 Februari 2012

kamu

ditingkah kelepak sayap sayap kecil
dan keciap mungil burung gereja
terbang diantara dahan-ranting-daun cherry yang merimbun
kududuk dan menantimu sekedar lewat
mungkin aku akan mendapati sepintas senyum

senyum yang terkembang dan satu patah dua kata
semua yang berasal darimu bagiku istimewa
senyum-salam-sapa meski bersahaja
kutermenung dan berharap waktu berhenti saja
mungkin aku dapat menikmati momen ini lebih lama

lama, adalah ukuran waktu yang tak nyata
terlebih buat hati yang selalu merindu
sehari-seminggu-sebulan semua bisa dikata lama
biar saja ku di sini dan menikmati sisa hadirmu
mungkin aku dapat membuatmu tetap tinggal
:meski sebentar

Cemburu

Cemburu adalah seperti kau menyiapkan hidangan
kau kumpulkan bahan bahan kecurigaan
lantas kau olah bersama bumbu bumbu prasangka
maka jadilah cemburu itu terhidang nyata
di pelupuk sanubarimu

Cemburu adalah seperti kau menyalakan api unggun
kau kumpulkan ranting ranting peristiwa
lantas kau siram dengan yang kau sebut cinta
maka membaralah cemburu itu
dan membakar ketenangan hatimu

Kamis, 27 Oktober 2011

kenangan

kenangan itu mungkin sebentuk mantra yang kau tiupkan di hari hari pertemuan kita atau di hari hari perpisahan kita
sehingga dia menyihirku dan membuatku selalu teringat akan dirimu
maka ketika aku lena karena cinta
selalu saja bayanganmu ada

ah, kenangan itu mungkin seperti hantu, yang bergentayangan tak tentu arah
dan tak tahu jalan pulang
sehingga dia selalu membuntutiku kapan atau dimana ketika tanpamu
maka di saat aku merasa takut kehilanganmu
tiba tiba saja kenangan itu menjelma

tidak, kenangan itu mungkin seperti ribuan potongan puzzle
yang sengaja engkau taburkan di sekelilingku, sepanjang hidupku
sehingga membuatku sibuk menyusun dan membayangkan bentuk utuhnya
maka ketika aku tak sanggup menyelesaikan
tiba tiba saja sebentuk gambarmu di depan mata

(Oh Tuhan,
aku mohon karuniakanlah padaku
lupa)

Selasa, 25 Oktober 2011

aku belajar

kuhitung embun yang disisakan malam untuk pagi
berharap bening dan sejuknnya redakan amarah
aku belajar dari dedaun padi yang hanya merunduk
ketika angin meniup,
dan jatuhlah butir embun dari dekapnya

kucerna kicau burung yang bertengger di ranting yang meranggas
berharap iramanya dapat mengurai rasa
aku belajar dari remah remah yang hanya pasrah
ketika paruh paruh kecil mematuk
dan tiadalah dia

kutatap gemintang yang disisakan mendung di sela kegelapan
berharap pijarnya dapat terangi jiwa
aku belajar dari pungguk yang sabar senantiasa
ketika purnama tiba
dan tetaplah ia dalam rindunya

Kamis, 13 Oktober 2011

MARAH

KUSIMPAN MARAH HINGGA DIA MEMBESAR DAN MEMBUATKU TAKLUK
JERATNYA BAGAI TENTAKEL GURITA YANG MENJALAR
MENAUT PERISTIWA DEMI PERISTIWA
MEMAKSAKU MENYUSUN MEMBENTUK PUZZLE UTUH
UNTUK KULEMPARKAN BERSAMA KEMARAHAN
: duhai apakah gerangan yang kau dapatkan ? katamu
: kepuasan ! jawabku

KUSIMPAN MARAH HINGGA DIA MENCAKAR CAKAR HATIKU
MENGGORES LUKA DAN MELELEHKAN DARAH YANG TIDAK AKAN PERNAH DILIHAT
MENDERAIKAN AIR MATA TANPA ISAK ATAU TERIAK
MEMAKSAKU BERTAHAN DI ATAS SERPIHAN SERPIHAN KISAH
YANG TELAH TERPAHAT DI DINDING SEJARAH HIDUPKU
: maafkanlah ! katamu
: entahlah ! jawabku

Selasa, 11 Oktober 2011

Geguritan

mesam mesem sajak nyalawadi
meneng meneng sajak ana sing disimpen
sawang tumrawang sajak kelingan sing ning paran

: ati kemrungsung, nanging lathi ora kawetu
mung donga kang disuwun kanthi saestu
duh Gusti, paringono setyo tuhu



*geguritan : sajak bahasa Jawa

Senin, 22 Agustus 2011

aku setia pada rindu

aku setia pada rindu
yang selalu dipahat waktu di dinding kalbu
rindu seraut senyum dalam kenangan
binar mata yang bercahaya
dan kata kata yang menguatkan

aku setia pada rindu
yang ditinggalkan masa di lajur usia
rindu akan cinta yang tak pernah nyata
peristiwa demi peristiwa yang membuat gelisah
hingga ketenanganku hanyalah, saat menunggu

aku selalu setia pada rindu
yang diukir jarum jam pada angka angka
entah berapa bilangan jumlah akhirnya
aku akan tetap menjaga rindu
hingga saatnya, bertemu


Rabu, 20 Juli 2011

Poetry Hujan : Tentang kita

: untuk sondang

Hujan ini mengingatkanku tentangmu
saat kita berlarian berkejaran
air mataku tumpah
tawamu renyah
aku menangisi perpisahan
engkau bercerita tentang cita cita

Hujan ini mengingatkanku tentangmu
sembari kudengarkan rintiknya
sembari kutahankan titik air mata
waktu terus berlari
semakin dekat waktumu pergi
tangisku menderas, seiring hujan diluar sana

Hujan ini mengingatkanku tentangmu
saat jarum hakken menusuk satu persatu
merajut sebuah tas selempang
satu demi satu kenangan terbayang
pergilah, kawan
aku disini akan bertahan




Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Selasa, 31 Mei 2011

bahagiaku, milikku

kurunglah aku dengan mantra mantramu
biar saja ragaku diam,
dengan suara hati kupanggil burung - burung
bersama mentari ku kan bersenandung

pagarilah aku dengan sihir matamu
biar saja badanku disini, tapi sukmaku melayang tinggi
akan kulukis pelangi bersama bidadari
atau menulis puisi bersama para peri

ikatlah aku dengan tali rasamu
biar saja jasadku tertinggal
imajiku akan tetap bebas berkelana
bercengkerama dengan siapa saja

aku tetap bahagia

Catatan buat H

adakah rasa menyentuh lara
yang tertoreh atas cerita
dia yang sendiri menempuh rimba
kehidupan tanpa belahan jiwa

adakah hati maknai sepi
saat bahagiamu tumpah di hadapnya
saat tawamu berderai tentang buah hati
air matanya menderas atas fitrah suci

(duhai dara yang setia menapak usia
bukan salahmu, bukan salah kita
ada Kuasa di atas usaha manusia

lara dan sepimu adalah teman dari-Nya
untukmu, untuk muliakan kedudukanmu
adalah syukur, adalah sabar, atas semua pemberian-Nya
ke sanalah tangis dan tawamu bermuara)

*kotakembang, 28.02.2005*

Jumat, 27 Mei 2011

inginku

ingin kuberjalan lambat lambat sepanjang jalan kenangan
aku takut akan ada yang terlewat dari pandangan
kan kupunguti lagi semua yang berserak
seutas senyum, seuntai lambai, sekejap tatap, sekelebat bayangan,
sepotong sapa, sedikit canda dan sentuhan jahil bersahaja

ingin kuberjalan pelan pelan sepanjang jalan kenangan
kan uuntai puisi dari kerikil kerikil yang menjadi saksi
atau kutulis sajak dari debar debar yang mendesak, sesak
atau mungkin kulukis pelangi dengan dahan dan ranting
hingga hatiku berwarna warni, bukan hanya rindu yang selalu biru

ingin kuberjalan perlahan sepanjang jalan kenangan
menyatukan keping keping fragmen yang tak juga utuh
yang membawa anganku pergi jauh
ke gerbang hatimu yang kadang angkuh
dan kesombonganku pun lantas runtuh

ingin kuberjalan sepanjang jalan kenangan
bersamamu bersisian
dan kubacakan sajak panjang agar kau mendengarkan
dan ada alasan buatku memintamu tetap tinggal
hingga tak pernah ada kata perpisahan

sang pecinta

aku adalah pecinta yang tabah
selalu bertahan atas segala kesah
meski tangan ini senantiasa tengadah
mengharap Langit membagi rahmat

aku adalah pecinta yang tangguh
tetap teguh tak kenal keluh
meski harus bermandi peluh
menanti di pantaimu hingga kau buang sauh

aku adalah pecinta yang sabar
memelihara rasa secara sadar
aku akan selalu tegar
bagaikan camar di pucuk tiang layar

aku adalah pecinta sejati
dilahirkan dengan kekuatan untuk memberi
agar aku memiliki arti
bagi dirimu yang aku cintai

Rabu, 25 Mei 2011

Mata Telaga

kurindukan mata telaga yang teduh
tempat kubasuh peluh dan keluh
tempat nan indah yang sanggup menelan gundah kemana entah
rumah yang tetap tenang ketika amarah dan sedih pulang
kurindu mata telaga, kemana dia...
mungkin puing puing kota lama menyembunyikannya
atau hiruk pikuk jalanan kehidupan menyibukkannya
ah, kurindu mata telaga
ingin kutatap walau sekejap saja

Jumat, 20 Mei 2011

lihatlah

lihatlah cinta, perasaanku padamu menjelma lautan
menenggelamkan, hingga aku selalu gelagapan
tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa
rasa itu kini membuahkan penerimaan
atas segala perlakuan

lihatlah sayang, perasaanku padamu telah menjelma sayap
membuatku terbang, hingga aku lupa daratan
tak peduli betapa banyak keterbatasan
rasa itu kini menelurkan pengharapan
agar kau tak akan tinggalkan