cinta,mari dengarlah kata yang kuucap lewat mata
tentang riuh yang menjelma pikuk di dada
mengejar waktu yang terus beranjak pergi
dan berlari
di setiap pagi yang kureguk manis senyummu
adalah nikmat yang melambungkan sukmaku
cinta,mari dengarkan soneta yang kesenandungkan
saat hening dentingkan dawai rasa
seirama tarikan nafas, hembusan nafas
dan detak nadi
di setiap siang yang kudapati canda riangmu
adalah anugerah yang menyuburkan jiwaku
cinta, mari dengarkan rintik gerimis yang rinai
saat butiran butiran bening sejukkan bumi
membasahinya dengan cinta tiada usai
dan abadi
di setiap malam yang kurasai hangat tatapmu
adalah inspirasi yang menggenapi puisi cintaku
Selasa, 10 Agustus 2010
Kamis, 08 Juli 2010
mengingatmu
mengingatmu selalu jatuh air mataku
basah hujan disini,
bersimbah darah bumimu karena hujan peluru
derai tawa anak anak yang bercanda disini
derai tangis anak-anakmu yang menjadi piatu
senyum ibu yang melepas ayah bekerja
senyum ibu yang melepas ayah menjadi syuhada
sibuk orang belanja di sini
sibuk orang berjihad di sana
ramai orang menonton televisi di sini
ramai orang menghafal al qur'an disana
duhai bumi para mujahid
duhai bumi al quds yang suci
duhai bumi yang melahirkan ribuan al hafidz
duhai bumi yang melahirkan jutaan syuhada
mengingatmu selalu jatuh air matamu
basah hujan disini,
bersimbah darah bumimu karena hujan peluru
derai tawa anak anak yang bercanda disini
derai tangis anak-anakmu yang menjadi piatu
senyum ibu yang melepas ayah bekerja
senyum ibu yang melepas ayah menjadi syuhada
sibuk orang belanja di sini
sibuk orang berjihad di sana
ramai orang menonton televisi di sini
ramai orang menghafal al qur'an disana
duhai bumi para mujahid
duhai bumi al quds yang suci
duhai bumi yang melahirkan ribuan al hafidz
duhai bumi yang melahirkan jutaan syuhada
mengingatmu selalu jatuh air matamu
Selasa, 25 Mei 2010
daun pun tak sanggup berbisik lagi
sehelai daun berbisik pada ranting
'kenapa selalu terasa perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
ranting pun diam,
sudah begitu sering dia ditinggalkan
sehelai daun berbisik pada ranting tempatnya bergantung,
setelah sekian waktu bersama
setelah sepanjang waktu itu berbagi makna
'selalu ada yang perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
rantingpun memikirkan kata pelepasan
daunpun kian sering berbisik pada ranting
'semakin terasa perih saja,
semakin waktu berjalan
semakin dekat saat perpisahan,
ketika aku semakin layu
dan tak sanggup lagi bergantung di tangkaimu'
kini daun tak sanggup lagi berbisik pada ranting
telah tiba saatnya daun layu dan luruh tertiup angin
rantingpun tak sempat lagi mengucapkan kata pelepasan
terlalu banyak daun yang tumbuh dan akhirnya jatuh
'kenapa selalu terasa perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
ranting pun diam,
sudah begitu sering dia ditinggalkan
sehelai daun berbisik pada ranting tempatnya bergantung,
setelah sekian waktu bersama
setelah sepanjang waktu itu berbagi makna
'selalu ada yang perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
rantingpun memikirkan kata pelepasan
daunpun kian sering berbisik pada ranting
'semakin terasa perih saja,
semakin waktu berjalan
semakin dekat saat perpisahan,
ketika aku semakin layu
dan tak sanggup lagi bergantung di tangkaimu'
kini daun tak sanggup lagi berbisik pada ranting
telah tiba saatnya daun layu dan luruh tertiup angin
rantingpun tak sempat lagi mengucapkan kata pelepasan
terlalu banyak daun yang tumbuh dan akhirnya jatuh
Langganan:
Postingan (Atom)